Kurikulum

STRUKTUR KURIKULUM

FAKULTAS SYARI’AH IAIN SALATIGA

MENGACU KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI)

DAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (SN-DIKTI)

  1. Latar Belakang

Fakultas Syari’ah adalah salah satu Fakultas pada lembaga IAIN Salatiga. Sebagai sebuah Fakultas yang mempunyai sejarah panjang, Fakultas Syari’ah telah banyak memberikan kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia secara khusus dan masyarakat dunia secara umum. Para alumninya tersebar ke berbagai penjuru tanah air dan telah banyak berperan dan berkontribusi penting dalam berbagai lembaga/institusi, baik di lembaga pemerintahan maupun non-pemerintahan. Kiprah para alumni ini menunjukkan bahwa dari segi kelembagaan (pendidikan tinggi), Fakultas Syari’ah telah menjadi wadah pendidikan tinggi yang sangat penting keberadaannya di masa sekarang dan ke depan.

Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  RI Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi, mengharuskan perguruan tinggi di Indonesia termasuk IAIN Salatiga untuk melakukan redesain kurikulum secara serentak paling lambat diimplementasikan pada Tahun Akademik 2016/2017. Implementasi KKNI bidang pendidikan tinggi tersebut ditandai dengan adanya Perpres Nomor 8 Tahun 2012. Ada beberapa alasan terkait dengan perlunya redesain kurikulum berbagai program studi/jurusan yang ada di lingkungan IAIN Salatiga termasuk di dalamnya adalah Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga. Pertama, dalam rangka menghadapi era globalisasi, pendidikan tinggi di luar dan dalam negeri disamaratakan kualitasnya. Padahal, dari segi sumber daya manusia yang dimiliki, Indonesia masih ketinggalan dari berbagai hal, misalnya rendahnya kualitas dan kuantitas manusia terdidik, rendahnya dana riset bagi para peneliti di Indonesia, serta tingginya resiko bencana alam yang terjadi di Indonesia. Kedua, IAIN Salatiga saat ini sedang menuju pentahapan national class university. Agar kualitasnya sama dengan perguruan tinggi dalam negeri lainnya, maka kurikulumnya harus menggunakan kerangka kualifikasi nasional yang disebut dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Belajar dari kelemahan Perguruan Tinggi Agama Islam [PTAI] dan Perguruan Tinggi Umum [PTU], IAIN Salatiga melakukan upaya-upaya pengembangan keilmuan dan kurikulum yang diharapkan mampu meminimalisir kelemahan dari kedua model pendidikan tersebut, sehingga IAIN Salatiga memiliki identitas yang kuat dan karakteristik keilmuan yang berbeda (unggul dan terkemuka) dari Perguruan Tinggi lainnya.

Ketika masih berstatus sebagai STAIN Salatiga, lembaga perguruan tinggi ini hanya terfokus pada kajian ilmu-ilmu keislaman (Islamic studies) dengan pendekatan yang cenderung eksklusif tanpa membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang lain, maka setelah berubah status menjadi IAIN Salatiga perlu menyeimbangkan keilmuan dan kurikulum yang gayut dan padu dengan ilmu-ilmu lain, sehingga studi Islam tidak lagi menjadi sebuah entitas keilmuan yang eksklusif. Diakui bahwa selama ini para dosen IAIN Salatiga sudah memanfaatkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam kajian-kajian keagamaannya, tetapi semua itu belum dilakukan secara terstruktur dan sistematis, dan sifatnya hanya insidental dan belum terbuka terhadap ilmu-ilmu sosial maupun ilmu humaniora dan ilmu alam untuk kedalaman kajian yang diajarkannya. Pada sisi lain, Perguruan Tinggi Umum kurang mempertimbangkan aspek-aspek agama (religious studies) dalam pengembangan keilmuannya karena agama dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan dunia ilmu pengetahuan.

IAIN Salatiga sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam, perlu mengubah realitas tersebut dengan melakukan upaya-upaya pengembangan keilmuan dan kurikulum yang menempatkan wilayah kajian agama dan ilmu dalam posisi yang sejajar, serta antar ilmu saling menyapa satu dengan yang lainnya sehingga menjadi satu bangunan yang utuh dan kokoh. Berangkat dari pembidangan ilmu yang sudah baku, yaitu ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu humaniora, IAIN Salatiga memandang perlu menempatkan etika Islam yang bersumber pada nilai-nilai universal Al-Qur’an dan Al-Sunnah untuk menjiwai seluruh bidang kajian keilmuannya. Pada dasarnya, Islam mengembangkan ilmu yang bersifat universal, dan tidak mengenal dikotomi antara ilmu-ilmu qauliyyah/hadlarah al-nash (ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks keagamaan) dengan ilmu-ilmu kauniyyah-ijtima’iyyah/hadlarah al-‘ilm (ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan), maupun dengan hadlarah al-falsafah (ilmu-ilmu etika kefilsafatan).

Dalam konteks wilayah kajian Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga termasuk di dalamnya Program Studi Hukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi Syari’ah dan Hukum Tatanegara maka kajian keilmuan yang dikembangkan adalah mencakup seluruh bidang keilmuan di atas, yang dikembangkan melalui konsep hadlarah al-nash, hadlarah al-‘ilm maupunhadlarah al-falsafah yang bernuansa ke-Indonesiaan. Dengan demikian, seluruh bidang keilmuan tersebut dapat dikatakan sebagai ilmu-ilmu keislaman, selama ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu tersebut berangkat dari dan sesuai dengan nilai-nilai etis keislaman yang berke-Indonesiaan.

Uraian tersebut di atas merupakan beberapa hal yang melatarbelakangi adanya upaya penyusunan rumusan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga dengan mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) dengan paradigma keilmuan ke-Indonesiaan.

  • Landasan Pengembangan Kurikulum

Upaya pengembangan kurikulum pada Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga ini didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai Pedoman Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi dan juga didasarkan pada paradigma keilmuan yang dikembangkan oleh IAIN Salatiga berupa paradigma ke-Indonesian.

  1. Landasan Yuridis Pengembangan Kurikulum

Secara yuridis, peraturan perundang-undangan yang dijadikan sebagai pedoman dalam penyusunan kurikulum pada Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga ini adalah sebagai berikut:

  1. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Undang-undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
  3. Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
  4. Keputusan Presiden RI Nomor 50 Tahun 2004 tentang Perubahan STAIN Salatiga menjadi IAIN Salatiga.
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa.
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi Indonesia.
  7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi.
  8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
  9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 81 Tahun 2014 tentang Ijazah, Sertifikat Kompetensi, dan Sertifikasi Profesi Pendidikan Tinggi.
  10. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 86 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja IAIN Salatiga.
  11. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 22 Tahun 2014 tentang Statuta IAIN Salatiga sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 22 Tahun 2014 tentang Statuta IAIN Salatiga.
  12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 154 Tahun 2015 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi.
  13. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
  • Landasan Paradigma Keilmuan dalam Pengembangan Kurikulum

Dalam merumuskan kurikulum ilmu-ilmu keislaman dan ilmu umum, Program Studi di lingkungan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga hendaknya menggunakan konsep Islam ke-Indonesiaan sebagai paradigma keilmuannya. Konsep Islam ke-Indonesiaan dapat muncul mulai dari rumusan capaian pembelajaran hingga metode pembelajarannya.

a. Landasan Keilmuan

1) Landasan Teologis.

Dalam QS al-Mujâdalah [58]: 11 Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadam