Author Archives: admin

PENGUMUMAN DAN UNDANGAN REGISTRASI/DAFTAR ULANG CALON MAHASISWA BARU JALUR UNDANGAN FAKULTAS SYARI’AH

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Seluruh sivitas akademika fakultas syari’ah IAIN Salatiga menyampaikan selamat kepada segenap calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus Jalur Undangan tahun akademik 2018/2019. Selanjutnya calon mahasiswa diwajibkan melaksanakan registrasi dengan ketentuan seperti dibawah silahkan mendowload link berikut:

UNDANGAN DAN PENGUMUMAN

 

TEKAD MAHASISWA MEWUJUDKAN INDONESIA KITA BUKAN INDONESIA KAMI

Salatiga- Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) IAIN Salatiga menyelenggarakan seminar nasional dengan mengangkat tema “Mewujudkan Indonesia Kita Bukan Indonesia Kami, Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional di Tengah Gejolak Politik Indonesia” pada Rabu, 02 Mei 2018 di Gedung Aula Kampus 1 IAIN Salatiga. Mahasiswa menyadari perlunya mengangkat tema ekonomi kreatif yaitu penciptaan nilai tambah berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif)     dan berbasis pemanfaatan ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi untuk membekali wawasan kondisi Negara dan ekonominya dalam menyambut masadepan mereka.

Berlangsungnya seminar diharapkan oleh ketua panitia Eka Yuni Suryani bisa memberikan tambahan wawasan peserta mengenai ekonomi nasional dan politik di Indonesia.

Hadir sebagai narasumber dalam seminar tersebut Staff Kepresidenan Roy Spta Abimanyu, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) yaitu KH. Imadudin Asrori, S.E. dan Desen Fakultas Ekonomi IAIN Salatiga Dr. Nafis Irkhami, M.Ag., dengan Darojat Bayu Adi nugroho sebagai moderator dari pihak penyelenggara seminar. Mengawali seminar, Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag.memberikan sambutan dengan motivasi supaya mahasiswa Syari’ah khususnya HES bisa mengikuti dan menerima paparan ilmu ekonomi, politik dan hukum dari narasumber, untuk menjadi tambahan ilmu di luar kelas perkuliahan serta bisa dilanjutkan mahasiswa menjadi bahan penelitian skripsi.

Tampilan pemateri dari narasumber mengangkat tema sebagai berikut:

  1. Roy Septa Abimanyu dengan judul materi “Stabilitas Ekonomi, Demokrasi dan Pembangunan”.
  2. KH. Imadudin Masruri, S.E. dengan judul materi “Ekonomi Kreatif dengan Berbasis Budaya Lokal Sebagai Penguat Ekonomi Negeri”.
  3. Dr. Nafis Irkhami, M.Ag. dengan judul materi “Kontribusi Ekonomi Syariah untuk Indonesia kita”. (link Download)

(Hijri, Syari’ah)

KEMNAKER MEMBUKA PELUANG KERJA UNTUK MAHASISWA HUKUM EKONOMI SYARIAH IAIN SALATIGA

Jakarta-Kementerian Tenaga Kerja (KEMNAKER) menjadi kunjungan studi berikutnya setelah mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah berkunjung di KEMENDAGRI pada pagi harinya, Kamis 26-04-2018. Bapak menteri ketenagakerjaan menitipkan salam dan ucapan maaf yang sebelumnya berniat menerima langsung junior-junior beliau, namun berhalangan dikarenakan ada rapat mendadak dengan DPR RI. Hanif Dzakiri sendiri adalah salah satu alumni mahasiswa IAIN Salatiga dan beliau asli putra daerah salatiga.

Mewakili Bapak menteri, Dr. Sugianto Sumas (Widyas wara utama), ditemani Sahat (Kepala Biro Humas) dan Danton (Plt Kepala Pusat Penelitian Ketenagakerjaan).

Sugianto menjelaskan bahwa fungsi inti KEMNAKER salah satunya berkonsentrasi pada peningkatan penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja. kemudian menawarkan untuk mahasiswa bisa mengadakan penelitian tentang KEMNAKER seperti tema “bayar lah buruh sebelum keringatnya kering” tuturnya.

Setelah pemaparan tentang kelembagaan dilanjutkan sesi pertanyaan, mahasiswa syari’ah tidak menunggu lama untuk menyampaikan unek-unek mereka. Wahyu Fikri menanyakan “Bagaimana KEMNAKER mengatasi pekerja di bawah umur untuk bisa dikembalikan pada bangku sekolah kembali?”. Kemudian disusul dengan berbagai macam pertanyaan mahasiswa yang kritis.

Kali ini Sahat yang menjawab pertanyaan di atas “Kami mengatasi masalah tersebut dengan berdasarkan undang-undang yang mengatur pekerja harus berusia 17 tahun keatas. Namun statistik KEMNAKER, di lapangan usia pekerja masih ditemukan usia 15 sampai 17 tahun. Kebijakan yang diambil pada kondisi tersebut, mereka digolongkan pekerja anak yang masih memungkinkan untuk ditarik kembali ke sekolah. Langkah itu berjalan dengan kerjasama dari Kementerian Pendidikan untuk mengembalikan mereka ke bangku sekolah. Sehingga kami memiliki sub bagian yang mengawasi perusahan atau setingkat di bawahnya untuk masuk ke zona bebas pekerja anak di bawah umur. Apabila ada yang melanggar dan ketahuan bisa kami berikan sanksi yang berat”.

Jully menambahkan kepada mahasiswa untuk memiliki mimpi dan semangat yang tinggi untuk bisa menjadi orang besar seperti bapak menteri yang menjadi senior mahasiswa IAIN Salatiga.

Pada penutupnya saling tukar kenang-kenangan dan foto bersama serta pengambilan video ucapan selamat hari buruh dengan melantangkan bersama “May Day is Fun Day”. Julky pun membuka kesempatan kerja untuk mahasiswa IAIN Salatiga setelah lulus nantinya. (Hijri/Syari’ah)

KEMENDAGRI KAGET AKAN WAWASAN DAN KEILMUAN MAHASISWA SYARI’AH IAIN SALATIGA

Jakarta- Kamis, 25-04-2018 mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) Fakultas Syari’ah berkunjung studi ke Kementerian Perdagangan di lantai 12 ruang pertemuan Anggrek.

Hadir sebagai narasumber Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Dr. Jully Paruhum Tambunan, MA. dan moderator Kepala Bagian Informasi Publik dan Perpustakaan Widodo Hardosono serta didampingi oleh Kepala Bagian Hubungan Antar Lembaga Bayu Wicaksono Putro.
Acara dimulai dengan sambutan dari Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. yang menyampaikan target dan tujuan kunjungan ke KEMENDAG seperti berikut:
1. Mahasiswa melihat dan memahami dari dekat profil lembaga Kementerian Perdagangan RI.
2. Mahasiswa memahami tata cara untuk menjadi pegawai dan pimpinan Kementerian Perdagangan RI.
3. Mahasiswa memahami kedudukan Kementerian Perdagangan RI dalam sistem tata negara Indonesia.
4. Mahasiswa memahami kode etik Kementerian Perdagangan RI.
5. Mahasiswa memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Perdagangan RI.
6. Mahasiswa memahami mekanisme pengawasan perdagangan oleh Kementerian Perdagangan RI
7. Mahasiswa memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh Kementerian Perdagangan RI dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.
8. Mahasiswa mengatahui peluang-peluang kerjasama yang dapat dilakukan antara Kementerian Perdagangan RI dengan IAIN Salatiga khususnya Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah.
Kemudian sambutan dilanjutkan pemaparan dari Jully bahwa untuk mengetahui profil lembaga bisa dibuka langsung melalui website resmi lembaga. Jully juga menggambarkan bahwa “pada masa kesibukan ditahun politik, globalisasi dan perdagangan bilateral indonesia tidak boleh ketergantungan dengan export migas, sektor garmen bisa menjadi pilihan baik untuk export non migas. Tahun depan menjadi tahun persaingan dan indonesia tidak boleh bersantai-santai mulai sekarang dalam menanggapi isu tersebut”.
Wawasan luas mahasiswa terlihat ketika sesi audiensi dibuka. Diawali dari M. Yusuf menanyakan “bagaimana strategi KEMENDAGRI dalam menyetabilkan harga sembako yang sebentar lagi mendekati puasa dan hari raya?”
Disusul pertanyaan dari Tika “Indonesia termasuk negara agraris, mengapa indonesia masih mengimpor beras? dan mengapa dalam hal export bahan pangan kita masih kalah dengan negara tetangga?”
Jully heran dengan pengetahuan informasi mahasiswa yang begitu luas. Kemudian memberikan jawaban bahwa semua pihak KEMENDAGRI tidak akan pernah lelah untuk selalu mencari strategi-strategi yang terbaik dalam mengatasi permasalahan untuk menuju indonesia yang maju jaya dalam bidang perdagangan.
Dalam penutupan Jully menawarkan kepada Dekan Fakuktas syariah dan mahasiswa semuanya untuk membuka seminar atau dialog ekslusif di IAIN salatiga tentang isu-isu yang berhubungan dengan KEMENDAGRI, dan dia siap untuk diundang gratis untuk menjadi narasumber dalam acara tersebut. (Hijri/Syari’ah)

INGIN LULUS MENJADI HAKIM AGAMA: BEKALILAH DENGAN PENGUASAAN ILMU NAHWU SHARAF

Jakarta-Besar sekali manfaat yang diperoleh rombongan Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga pada kunjungan mereka di Mahkamah Agung (MA) yang termasuk salah satu lembaga tinggi negara Indonesia. Rabu, 25 April 2018 jam 09.30 sampai 13.00 WIB rombongan yang diterima oleh Hakim-hakim Yustisial pada Biro Hukum dan Humas MA-RI, Darmoko Yuti Witanto,SH., Abdur Rahman Rahim, S.H.I., M.H., Dr. Riki Perdana Raya Waruwu, SH., M.H. dan Dr. Ardi Julia Cakrawala, S.H.I., M.H. di ruang pertemuan Wiryono Mahkamah Agung.

Kunjungan tersebut diawali dengan perkenalan dan dilanjutkan sambutan dari Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. yang menyampaikan target dan sasaran kunjungan rombongan di MA seperti berikut:

1. Mahasiswa melihat dan memahami dari dekat profil lembaga MA RI.

2. Mahasiswa memahami tata cara untuk menjadi pegawai, pimpinan dan majelis hakim MA RI.

3. Mahasiswa memahami kedudukan MA RI dalam sistem tata negara Indonesia.

4. Mahasiswa memahami kode etik MA RI.

5. Mahasiswa memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) MA.

6. Mahasiswa memahami dasar pertimbangan yuridis maupun non-yuridis yang digunakan dalam proses putusan kasasi.

7. Mahasiswa memahami mekanisme pengawasan hakim-hakim oleh MA.

8. Mahasiswa memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh MA RI dalam membina hakim dan membersihkan mafia peradilan.

9. Mahasiswa mengetahui peran MA dalam memberantas mafia peradilan.

10. Mahasiswa mengetahui peluang-peluang kerjasama yang dapat dilakukan antara MA RI dengan IAIN Salatiga khususnya Jurusan Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhshiyyah) dan Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah.

Kemudian sambutan dilanjutkan dari pihak MA yang secara langsung menanggapi satu persatu dengan jelas target tujuan kunjungan rombongan ke MA. Dari beberapa tanggapan, ada yang begitu menarik dan penting untuk diketahui mahasiswa dan seluruh masyarakat indonesia yaitu pada jawaban point ke-2 dari target kunjungan, karena Abdur Rahman memberikan kisi-kisi bagaimana para mahasiswa bisa menjadi Hakim Agama Republik Indonesia.

“Pengetahuan umum dan kompetisi dasar menjadi syarat mutlak melewati ujian pertama, kemudian apabila lulus dalam tahap tersebut maka melanjutkan pada ujian wawancara dan dimana pada saat itu keilmuan nahwu sharaf diuji untuk mengetahui penguasaan kitab kuning (kitab arab tanpa harakat), dan menjadi nilai plus apabila calon hakim agama memiliki kompetensi tersebut” tuturnya.

Pada penutup kunjungan, ada foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan kunjungan dari fakultas syariah untuk Mahkamah Agung Republik Indonesia. (Hijri/Syari’ah)

MAHASISWA HUKUM IAIN SALATIGA PERTANYAKAN PERMA No. 3 Tahun 2018 ke Mahkamah Agung

Jakarta, Rabu 25 April 2018 – Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga berkunjung ke Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Rombongan Fakultas Syariah di sambut oleh Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung di Gedung Pertemuan Mahkamah Agung Jakarta Pusat, Rabu (25/04/2018).

Kegiatan tersebut diikuti 149 mahasiswa yang terdiri dari jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI), Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Hukum Tata Negara (HTN), yang mengikuti rangkaian acara dengan antusias.

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Syariah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. menyampaikan, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa secara praktis yang bersifat informatif maupun komparatif tentang  Mahkamah Agung, memahami tata cara menjadi pegawai, pimpinan dan majelis hakim MA RI, serta mengetahui peluang-peluang kerjasama yang dapat dilakukan antara MA RI dengan IAIN Salatiga khususnya Jurusan Hukum Keluarga Islam dan Hukum Ekonomi Syariah.

Acara tersebut salah satu peserta, M Choiruzzadi mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam, menanyakan kejelasan mengenai Perma No. 3 Tahun 2018 Tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik.

Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Witanto menanggapi, perma tersebut merupakan upaya Mahkamah Agung dalam merespons aspirasi masyarakat terkait modernisasi penyelenggaraan peradilan.

“Perma tersebut berbasis komputer yang mengikuti perkembangan jaman bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih hemat biaya dan dapat dijangkau dengan waktu yang cepat,” ujar Sutanto menanggapi pertanyaan Choiruzzadi, Rabu (25/4/2018).

Ia menjelaskan, perma tersebut akan memberikan kemudahan bagi siapa pun untuk mengajukan tuntutan hak, baik gugatan maupun permohonan tanpa harus datang langsung ke pengadilan. (Budiyono/Syari’ah)

KARISMATIK TEKNOLOGI PENENTU WAKTU KINI HADIR DI FAKULTAS SYARI’AH IAIN SALATIGA

Salatiga-Sebelum dunia ini mengenal berbagai jam analog maupun digital, sudah jauh dahulu umat islam mengenal teknologi sederhana dalam menandai masuk dan berakhirnya waktu ibadah shalat.

Teknologi sederhana tersebut dikenal dengan beragam nama seperti jam bencet, jam matahari dan jam istiwak. Jam bencet dipasang melalui proses menunggu waktu istiwak yang bisa dilakukan dijam 09.00 atau jam 12.00 dan jam 15.00 tutur KH. Syeh Misbachul Munir Al Falakiy, ahli falak indonesia.

Beliau juga menuturkan bahwa “Jam bencet ini kerjanya untuk menunjukan waktu dengan mengetahui posisi Matahari dan ini sudah dipakai sejak jaman kuno”.

Merasa begitu pentingnya alat tersebut untuk mengenal sejarah dan menambah ilmu akademika, Fakultas Syari’ah yang diprakarsai oleh Ikatan Alumni Fakultas Syari’ah (IKAFASA) tahun 2018 memberikan kenangan-kenangan jam bencet yang sudah bisa dilihat terpasang halaman selatan Masjid Kampus 2 IAIN Salatiga, Senin 23 April 2018.

Senada dengan hal tersebut Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga Dr. Siti Zumrotun, M.Ag menyampaikam pemasangan jam bencet selain untuk menunjang kegiatan akademik, pemasangan jam bencet juga sebagai momentum memompa kembali semangat jiwa pembelajaran Ilmu Falak di IAIN Salatiga yang sebelumnya telah dirintis oleh KH.Zubair Umar Al-Jailani Ahli Falak sekaligus Pendiri IAIN Salatiga.

Bagi mereka alumni Fakultas Syariah juga merasa bangga bisa memberikan kenang-kenangan yang bisa memberikan manfaat dari banyak arah. (Hijri/Syari’ah)

MENENGOK PELUANG, TANTANGAN DAN KREATIFITAS PENINGKATAN KINERJA ORGANISASI MAHASISWA

  • Salatiga- Peningkatan kinerja, program kerja dan kreatifitas organisasi mahasiswa pada era modern saat ini lebih banyak dibungkus dengan Studi Banding pada lembaga lainnya. Kegiatan tersebut dijalankan oleh

23 Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang melakukan kunjungan belajar berorganisasi pada hari Senin, 23 April 2018 di salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri yang ada di Salatiga, yaitu Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

 

Mereka yang berkunjung tergabung dalam anggota organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HMJ HKI), dan disambut hangat oleh Bapak Sukron Ma’mun, S.Hi., M.Si selaku Kepala Jurusan Hukum Keluarga Islam IAIN Salatiga dan Ibu Dr. Siti Zumrotun, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga.

 

Dalam kegiatan itu, HMJ Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddun Jambi dengan HMJ Hukum Keluarga Islam IAIN Salatiga saling bertukar pikiran mengenai  apa saja yang dilakukan di masing-masing HMJ HKI di Perguruan Tingginya.

 

Disamping tujuan mereka untuk saling bertukar pikiran, kunjungan tersebut sekaligus untuk menyambung silaturahmi antar sesama Perguruan Tinggi dibidang Hukum Keluarga Islam.

 

Dalam pembahasan kemarin, Khasan Alimuddin selaku ketua HMJ IAIN Salatiga menyampaikan, “Selain sebagai mahasiswa yang berkecimpung dibidang akademik, kita sebagai mahasiswa sarjana hukum memiliki peran yang lebih utama yaitu bagaimana kita dapat menerapkan hukum dimasyarakat”. Paparan Khasan Alimuddin tersebut diterima dengan baik oleh Anggota HMJ HKI UIN STS Jambi.

 

Ketua pantia dari HMJ HKI UIN STS Jambi juga menyampaikan bahwasannya, mereka sangat senang karena dapat berkunjung di IAIN Salatiga. Selain itu, mereka juga berinisiatif untuk menerapkan segala sisi positif yang dimiliki HMJ HKI IAIN Salatiga dikampus mereka. Begitu juga yang dilakukan oleh HMJ HKI IAIN Salatiga mereka mengambil sisi postif yang dimiliki oleh HMJ Hukum Keluarga Islam UIN STS Jambi untuk di terapkan dalam sistem kepengurusanya.

 

Melalui kesempatan itu, HMJ HKI UIN STS Jambi dan HMJ HKI IAIN Salatiga berharap hasil dari kunjungan tersebut dapat bermanfaat dan dapat diterapkan bagi masing-masing organisasi tersebut. (Khasan/Syari’ah)

Gelar Sarjana Merupakan Tanggung Jawab Besar dan Penuh Amanah

Salatiga-Fakultas Syraiah IAIN Salatiga pada hari senin 23 April 2018 mengadakan pelepasan wisuda periode VII tahun akademik 2017/2018 yang bertempat di Aula Fakultas Syraiah IAIN Salatiga yang dimulai dari pukul 08.30 WIB. Pelepasan wisuda ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Syariah, Para wakil dekan, ketua jurusan dan sekretaris Jurusan di Fakultas Syariah IAIN Salatiga, dosen dan para tamu undangan.

Fakultas Syariah IAIN Salatiga pada acara pelepasan wisuda VII kali ini mewisuda  32 mahasiswa. Ke 32  Mahasiwa tersebut adalah, sebanyak 21 Mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan sebanyak 11 Mahasiswa dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Acara pelepasan wisuda VII berlangsung dengan khidmat yang dimulai dengan pembacaan kalam Illahi yang dibacakan oleh Lia Wardah Nadhifah S.H yang merupakan wisudawan dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI). Pada acara pelepasan wisuda kali ini Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga Dr. Situ Zumrotun, MAg menyerahkan kenang-kenangan berupa plakat wisuda kepada perwakilan wisudawan dan sekaligus penyerahan hibah dari alumni ke fakultas Syariah IAIN Salatiga berupa jam matahari.

Zulfa Hudaya SH dalam sambutannya yang mewakili wisudawan Hukum Keluarga Islam (HKI) menyampaikan perlunya rasa cinta terhadap instutusi sebagai bentuk pengabdian nayata terhadap kemajuan kampus tercinta fakultas Syari’ah IAIN Salatiga. Sementara itu Muhammad Ro’isun Ni’am yang mewakili wisudawan Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) menekankan pentingnya usaha yang nayata dalam mengamalkan ilmu yang didapat ditengah-tengah kehidupan masayarakat nantinya, menurutnya gelar sarjana yang diperoleh merupakan tanggung jawab yang besar dan penuh amanah dalam mengembannya.

Disamping melakukan pelepasan wisudawan oleh dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga, Para wisudawan juga dibekali dengan berbagai pengalaman advokats yang disampaikan oleh Bapak Nurun Jamaluddin, SH, MH.I dengan harapan para wisudawan Fakultas Syariah IAIN Salatiga dapat berperan aktif di tengah-tengah masyarakat terutama dalam hal advokasi.

Sementara itu Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiag Dr. Siti Zumrotun, MA.g dalam sambutannya berpesan kepada para wisudawan untuk tetap berkarya dalam mengarungi kehidupan ini “berjalan terus untuk melukis awan dan meraih bintang” tutur dekan, tidak lupa pula menyematkan doa yang terbaik bagi para wisudawan supaya kelak sukses dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat.

Dekan fakultas Syariah menjelaskan bahwa pasca kelulusan ini sudah saatnya untuk beramal dan berprestasi “A’maluu Fauqo ma ‘amiluu” (berbuatlah lebih baik dari yang mereka lakukan) sungguh-sungguh dalam bekerja, berfikir, sabar dan tawakkal. Di akhir sambutannya ibu dekan kembali menegaskan bahwa bekal hidup itu bukan hanya ilmu tapi akhlak dan moral juga tidak kalah pentingnya sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan ini. (AliGeno/Syari’ah)

Gerakan Nyata Penanggulangan Kekerasan di Masyarakat

Salatiga-Perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan. Setiap tahunnya berbagai kasus yang dialami perempuan dan anak sebagai korban, berkembang secara signifikan dan mendesak untuk dituntaskan. Mulai dari kasus kekerasan, trafficking, pelecehan seksual, eksploitasi anak dan perempuan, hingga kasus anak berhadapan dengan hukum. Masing-masing kasus membutuhkan perhatian khusus agar penanganan yang diberikan pun tepat sasaran.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Salatiga menggelar Seminar Internasional bertajuk “Self & Family Protection (Practical Methodological Review)” dengan nara sumber Dr. Katharina Werner (Universitas Passau-German), Dr. Ir. Arianti Ina R. Hunga, M.Si. (Secretary of ASGWU/ Indonesian Association of Gender and Women Studies) dan Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. (Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga/ Pioneer of Gender Studies), berlangsung Kamis 18 April 2018di Gedung FTIK IAIN Salatiga.

Dalam seminar tersebut Dekan Fakultas Syari’ah menyampaikan tulisan dari Ibda’ binafsik “persoalan perkosaan, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya bisa diselesaikan melalui kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Dia harus dimulai dengan perubahan paradigma masyarakat dalam melihat bagaimana posisi perempuan, baik terhadap laki-laki, terhadap masyarakat, maupun terhadap negara. Budaya kita yang harus diubah, dan semua itu bisa dilakukan mulai dari diri kita sendiri”.

Lanjutnya beliau menyampaikan materi ttg OSSOS/F (Student Save One Student/Family) dalam perspektif Islam. OSSOS/F merupakan program yang diinisiasi oleh kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang kemudian menjadikan kota salatiga sebagai pilot project dengan bekerjasama dengan dua perguruan tinggi yang ada di dalamnya yakni IAIN Salatiga dan UKSW.

OSSOS/F merupakan aksi nyata dalam menanggulangi permasalahan yang ada di kalangan mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ketika selama ini kita mengadakan berbagai seminar, workshop dan penelitian tentang bagaimana mengubah paradigma masyarakat tentang kekerasan terhadap gender dan anak maka dengan adanya OSSOS/F ini merupakan wujud nyata sebagai bentuk implementasi di tengah-tengah masyarakat. Jiwa OSSOS/F ini sejalan dengan tuntunan dalam Islam yang tercantum dalam surat Al Maidah ayat 2 yakni saling tolong menolong disamping itu agama kita juga telah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentang kepada siapa kita menolong, islam mengajarkan ada 3 tingkatan persaudaraan yakni ukhwah islamiyah, ukhwah wathaniyah dan ukhwah basyariyah, dari ketiga hal tersebut yang paling tinggi tingkatannya adalah ukhwah basyariyah artinya setelah menapaki ukhwah islamiyah dan ukhwah wathaniyah sudah seharusnya seseorang menggapai tingkatan ukhwah yang lebih tinggi, lebih mendalam dan lebih mendasar yakni ukhwah basyariyah, imbuhnya. (Hijri/ADM Syari’ah)